Sabtu, 16 Oktober 2010

Menata Diri Menjadi Pribadi Muslim Negarawan

Inilah langkah awal seorang menjadi Muslim yang Negarawan, yaitu dengan menata diri, baik itu pikiran, mental maupun fisik. Mulai dari menata diri seorang kader dakwah bias menjadi Muslim yang militant bahkan Muslim yang negarawan. Di awali dengan menata niat kita berada di jalan dakwah ini, karena begitu pentingnya menata niat maka Al-Bukhari r.a., menaruh hadits “sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya” pada nomor urut pertama dalam kitab sahihnya. Seorang muslim haruslah memperkuat dan meluruskan niat untuk selalu ada berjuang bersama di jalan dakwah ini untuk menegakkan kalimatullah di Indonesia pada khususnya dan dunia pada umumnya.
Sabar dalam meniti jalan dakwah merupakan hal yang utama untuk membangkitkan semangat juang dan melatih kesabaran para jundullah. Konsisten dalam beribadah juga akan membiasakan diri untuk tetap setia berada di jalan Allah demi kejayaan islam.
Mengapa Rasulullah tidak henti-hentinya menunaikan ibadah, padahal beliau orang yang paling bertakwa dan kedudukan beliau yang paling agung? Andai setiap kita mengetahui bahwa ibadah merupakan item terpenting dalam meningkatkan giroh para aktivis dakwah.
Hidup ini tidak selamanya berada pada keadaan yang baik dan mulus-mulus saja, ada saat dimana kita bisa tertawa dan ada saatnya kita menghadapi keadaan tersulit yang terkadang kita tidak mampu untuk keluat dari masalah tersebut. Mau atau tidak, suka atau tidak suka semua itu pasti akan kita lalui, dan seorang muslim yang selalu konsisten dengan ibadah dan dengan niat yang lurus hanya ingin mendapatkan ridha Ilahi. Dengan kita konsisten kepada ibadah akan memiliki kekuatan untuk menghadapi berbagai masalah yang dapat melunturkan semangat seorang aktivis dakwah.
Seorang aktivis dakwah harus memiliki tingkat kesabaran yang luar biasa dalam mengarungi jalan dakwah ini. Imam Ahmad rahimahullah berkata, “Di dalam al-Qur’an kata sabar disebutkan dalam 90 tempat lebih. Sabar adalah bagian iman, sebagaimana kedudukan kepala bagi jasad. Sebab orang yang tidak punya kesabaran dalam menjalankan ketaatan, tidak punya kesabaran untuk menjauhi maksiat serta tidak sabar tatkala tertimpa takdir yang menyakitkan maka dia kehilangan banyak sekali bagian keimanan”.



HUMAS KAMMI UNIVERSITAS GORONTALO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar